Kamis, 10 Oktober 2013
potensi gunung niut
hery kutip dokument orang
Gunung Niut adalah sebuah Pegunungan yang unik dan eksotik. Di kaki Bukit Gunung ini bertebaran pemukiman penduduk yang didominasi mayoritas Etnis Dayak Bidayuh, Dayak Bengkawat’Nt dan Dayak Bakati’k. Salah Satu dari Keunikan yang menjadi kearifan lokal adalah bahasa lokal setempat (perkampungan di bawah Gunung Niut-Red) dengan penuturan unik seperti Kicauan Burung.
Meski tampaknya satu rumpun tetapi di setiap perkampungan, memiliki perbedaan bahasa serta penuturan yang berbeda dari Suku Dayak pada umumnya. Keajaiban ini nyata ketika mereka berkomunikasi, namun saling mengerti walaupun berbicara dengan dialek masing-masing kelompok.
Bahasa Bengkawat’n dan “Bahasa Bajob’M’ misalnya ketika diucapkan terdengar seperti melalui tenggorokan dan hanya sedikit saja penuturan menggunakan lidah. Bahasa serta penuturan tersebut sebenarnya perlu dilestarikan karena merupakan kearifan lokal serta kekayaan budaya yang tidak ternilai.
Daerah Pegunungan Niut pada umumnya adalah bagian dari kelompok Binua HLiboey. salah Satunya adalah Dusun Bumbung, Desa Bengkawan Kecamatan Seluas Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat.
Sayangnya, tak banyak, yang mengenal Bumbung, daerah yang berada di kaki Gunung Niut ini banyak menyimpan kisah dan sejarah menarik mengenai kehidupan orang-orang terdahulu.
Tidak ada alternatif lain menuju Daerah Bumbung, selain melalui transportasi Sungai menelusuri Sungai Biang menggunakan perahu tempel (speed boad) dengan jarak tempuh berkisar 4 Jam perjalanan Sungai. Akses transportasi darat menuju daerah ini masih melalui jalan setapak, sebab pembangunan Infrastruktur jalan dan jembatan belum ada.
Dusun Bumbung terkesan tersembunyi, meskipun sudah dimekarkan menjadi sebuah Desa, yakni Desa Bengkawan, namun Bumbung tetap menjadi pelabuhan ternama sebagai pusat perdagangan sejak Zaman Saomokil hingga sekarang.
Pelabuhan Bumbung menurut Ayul Kibli, selaku Kepala Desa Bengkawan menuturkan jika pelabuhan tersebut masih dikenal masyarakat setempat hingga sekarang. Disampaikannya, pelabuhan Bumbung berdasarkan sejarah merupakan pusat persinggahan para pedagang (Saumokil-Red) yakni perdagangan sebagai pertukaran barang (Barter-Red).
“Kampung Bumbung dulunya tempat persinggahan para Saumokil,” Kata Ayul Kibli yang sudah menjabat selaku Kepala Desa Dua periode.
Berdasarkan sejarah, Dusun Bumbung juga merupakan Tempat persinggahan para pedagang asal Sambas (Laut-Red) yang menjual beberapa keperluan bahan pokok bagi warga dari pegunungan yang akan berbelanja.
Kedatangan mereka herasal dari berbagai perkampungan seperti Kampung Tengon, Tokot, Kambih, Sungkung, Tamong dan Tawang. Berawal dari ekspansinya para pedagang ini sehingga dalam kurun waktu yang relatif singkat, mereka (Laut-Red) membuat permukiman sementara (Parok’Ng) yang akhirnya menjadi sebuah perkampungan Melayu yang disebut Bumbung.
Perkawinan silangpun tidak terelakan, membaur hingga beranak pinak. Tidak heran jika Dusun Bumbung walaupun mayoritas Dayak tetapi menganut Agama Islam yang dinamakan (masok Laut-Red).
Walaupun berbeda keyakinan, namun keberadaban warga Bumbung masih menghormati Adat istiadat dan Budaya yang . menjadi kearipan lokal.
Dusun Bumbung Desa Bengkawan .ini merupakan perkampungan dengan cerita unik, karena menyimpan banyak.sejarah dan budaya seperti rumah Adat Balug pertama didirikan di Benua HLiboy yakni Rumah Adat Balug Kambih. Balug ini memiliki Ciri khas tersendiri karena tidak memiliki ruangan dan dipisahkan oleh pembatas, atapnya terbuat dari Daun Rumbia (Sagu) dan memiliki Dua pintu yang menghadap kebarat dan timur. Hanya saja di depan Masing-masing pintu terdapat serambi sebagai tempat musyawarah dalam setiap penyelesaian masalah yang berhubungan dengan adat-istiadat.
Rumah Adat Balug Kambih juga dibuat tanpa menggunakan paku, sungguh kearifan lokal yang luar biasa.
Sejarah rumah adat Balug yang pertama terdapat di Dusun Kambih, hanya saja belum dikenal oleh masyarakat luas, tetapi paling tidak Desa Bengkawan menjadi tempat bersejarah,”ungkap Kibli mengakhiri pembicaraannya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar