Kamis, 10 Oktober 2013

Lada

Perakitan Varietas Lada Hibrida Tahan terhadap BPB

INOVASI PERKEBUNAN – Penelitian Perakitan Varietas Lada Hibrida Tahan Terhadap Penyakit Busuk Pangkal Batang (BPB) terdiri dari dua Kegiatan yaitu: (1) Seleksi lada hibrida terhadap penyakit BPB di daerah endemik ini dilaksanakan di Lampung Timur, pada bulan Januari sampai Desember 2009. (2) Penelitian uji adaptasi lada hibrida tahan penyakit busuk pangkal batang. (1) Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan yang ditanam tahun 2004. Penelitian dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok, dengan perlakuan 20 nomor lada hibrida dan 2 varietas lada pembanding (Natar 1 dan Petaling 1), ditanam dengan tiga ulangan. Masing – masing plot terdiri dari 9 tanaman dengan jarak tanam 2,5 x 2,5 m, plot berukuran 2,5 m x 22,5 m. (2) Penelitian uji adaptasi lada hibrida tahan penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh Phytophthora capsici, untuk mendapatkan lada hibrida yang tahan terhadap penyakit busuk pangkal batang telah dilakukan sejak tahun 2005/2006 (tanam Desember 2005). Pengujian dilakukan di tiga lokasi yaitu KP. Sukamulya (Jabar), KP. Cahaya Negeri (Lampung) dan KP. BPTP Babel (Bangka). Nomor-nomor yang diuji adalah 10 nomor lada hibrida (LH 4-5-5, LH 20-1, LH 22-1, LH 44-9, LH 6-2, LH N2 x BK (1), LH 37 –16, LH 36-31, LH 63-5, LH 51-2 dan 2 varietas pembanding (Petaling 1 dan Natar 1). Pada tahun 2008 Penelitian di KP Sukamulya dan di KP Babel (Bangka) atas usul tim monev Puslitbang Perkebunan dan Balittri untuk dihentikan dan disarankan untuk ditanam ulang di Lampung Timur dan Lampung Selatan. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan 3 ulangan, 25 tanaman per petak dengan jarak tanam 2.5 x 2.5 m. Rancangan Percobaan pada penelitian yang di ulang di Lampung Timur dan Lampung Selatan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 5 ulangan, 25 tanaman per petak dengan jarak tanam 2.5 x 2.5 m.
Nomor-nomor yang diuji adalah 4 nomor lada hibrida (LH 4-5-5, LH 6-2, LH N2 x BK (1), dan LH 37 –16) dan satu varietas pembanding yaitu Natar1. Penanaman menggunakan tegakan hidup yaitu tanaman gamal. Pengamatan dilakukan terhadap karakter morfologi (tinggi tanaman, jumlah cabang primer, sekunder, panjang cabang primer, sekunder, jumlah daun/cabang primer, panjang, lebar, tebal daun dan diameter batang.

Hasil Penelitian
(1) hasil seleksi tingkat ketahanan nomor – nomor lada hibrida terhadap penyakit BPB sampai umur 5 tahun, bahwa lada hibrida LH 36 – 37; LH 51 – 1; LH 36 – 1 ; LH 37 – 16; LH 20 – 4 ; dan LH 24 – 1 (1) masih 100 % tahan terhadap penyakit BPB. Nomor lada hibrida tersebut dikatagorikan tahan terhadap penyakit BPB. Nomor – nomor lada hibrida tersebut mempunyai jumlah cabang pada 50 cm tinggi tajuk lebih banyak dari Natar 1 dan memiliki panjang buku yang relatif sama dengan pembanding Natar 1 dan Petaling 1. Lada Hibrida LH 36 – 1 dan LH 20 – 4 mempunyai tinggi tanaman dan tinggi tajuk tajuk lebih tinggi dari Natar 1, sedangkan panjang dan lebar daun pada lada hibrida 36 – 1 dan LH 24 – 1 (1) lebih lebar dan tinggi dai Natar 1 dan Petaling 1.  Produksi Lada hibrida pada buah panen pertama LH 20 – 4 ; LH LH 5 – 1 dan LH 37 – 16 masing – masing mencapai 1943,3 gr; 1730,7 gr; dan 1530 gr/pohon; panjang malai buah lada hibrida LH 20 – 4 dan LH 51 – 1 hampir sama dengan pembandingnya, untuk berat buah 1000 butir lada hibrida LH 51 – 1 lebih berat dari pembading Natar 1. (2) dari pengamatan pada tanaman yang berumur 4 tahun menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman yang terbaik di KP. Cahaya Negeri adalah Petaling 1 dan Natar 1 masing – masing memiliki rata – rata tinggi tanaman 3,81 m dan 3,79 m sedangkan LH 4 – 5 – 5 dan LH 6 – 2 memiliki rata – rata tinggi tanaman 2,72 m dan 3, 58 m. LHN2 x BK(1) dan LH 37 – 16 memiliki rata – rata tinggi tanaman 2,96 m dan 2,99 m. Semua nomor lada hibrida yang diuji tahan terhadap penyakit BPB. Produksi buah basah pada panen pertama LH 4 – 5 – 5; LH 6 – 2; LH N2 x BK (1) masing – masing memiliki 690 grm/pohon; 658,3 grm/pohon; 513,3 grm/pohon. Petaling 1 dan Natar 1 pada panen pertama mencapai produksi masing – masing 688 grm/pohon dan 586,7 grm/pohon. LH 36 – 31 pada panen pertama mencapai 1003,3 grm/pohon. Di Lampung Timur dan Lampung Selatan LH 4 – 5 – 5 ; LH N2 x BK(1); dan LH 37 – 16 memiliki rata – rata tinggi tanaman lebih tinggi dibanding rata – rata tinggi tanaman Natar 1 pada umur 9 bulan.




















Natar 1                                      Petaling 1
Gambar: Pertumbuhan nomor-nomor lada hibrida dan pembandingnya umur 5 tahun.

potensi gunung niut

hery kutip dokument orang Gunung Niut adalah sebuah Pegunungan yang unik dan eksotik. Di kaki Bukit Gunung ini bertebaran pemukiman penduduk yang didominasi mayoritas Etnis Dayak Bidayuh, Dayak Bengkawat’Nt dan Dayak Bakati’k. Salah Satu dari Keunikan yang menjadi kearifan lokal adalah bahasa lokal setempat (perkampungan di bawah Gunung Niut-Red) dengan penuturan unik seperti Kicauan Burung. Meski tampaknya satu rumpun tetapi di setiap perkampungan, memiliki perbedaan bahasa serta penuturan yang berbeda dari Suku Dayak pada umumnya. Keajaiban ini nyata ketika mereka berkomunikasi, namun saling mengerti walaupun berbicara dengan dialek masing-masing kelompok. Bahasa Bengkawat’n dan “Bahasa Bajob’M’ misalnya ketika diucapkan terdengar seperti melalui tenggorokan dan hanya sedikit saja penuturan menggunakan lidah. Bahasa serta penuturan tersebut sebenarnya perlu dilestarikan karena merupakan kearifan lokal serta kekayaan budaya yang tidak ternilai. Daerah Pegunungan Niut pada umumnya adalah bagian dari kelompok Binua HLiboey. salah Satunya adalah Dusun Bumbung, Desa Bengkawan Kecamatan Seluas Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat. Sayangnya, tak banyak, yang mengenal Bumbung, daerah yang berada di kaki Gunung Niut ini banyak menyimpan kisah dan sejarah menarik mengenai kehidupan orang-orang terdahulu. Tidak ada alternatif lain menuju Daerah Bumbung, selain melalui transportasi Sungai menelusuri Sungai Biang menggunakan perahu tempel (speed boad) dengan jarak tempuh berkisar 4 Jam perjalanan Sungai. Akses transportasi darat menuju daerah ini masih melalui jalan setapak, sebab pembangunan Infrastruktur jalan dan jembatan belum ada. Dusun Bumbung terkesan tersembunyi, meskipun sudah dimekarkan menjadi sebuah Desa, yakni Desa Bengkawan, namun Bumbung tetap menjadi pelabuhan ternama sebagai pusat perdagangan sejak Zaman Saomokil hingga sekarang. Pelabuhan Bumbung menurut Ayul Kibli, selaku Kepala Desa Bengkawan menuturkan jika pelabuhan tersebut masih dikenal masyarakat setempat hingga sekarang. Disampaikannya, pelabuhan Bumbung berdasarkan sejarah merupakan pusat persinggahan para pedagang (Saumokil-Red) yakni perdagangan sebagai pertukaran barang (Barter-Red). “Kampung Bumbung dulunya tempat persinggahan para Saumokil,” Kata Ayul Kibli yang sudah menjabat selaku Kepala Desa Dua periode. Berdasarkan sejarah, Dusun Bumbung juga merupakan Tempat persinggahan para pedagang asal Sambas (Laut-Red) yang menjual beberapa keperluan bahan pokok bagi warga dari pegunungan yang akan berbelanja. Kedatangan mereka herasal dari berbagai perkampungan seperti Kampung Tengon, Tokot, Kambih, Sungkung, Tamong dan Tawang. Berawal dari ekspansinya para pedagang ini sehingga dalam kurun waktu yang relatif singkat, mereka (Laut-Red) membuat permukiman sementara (Parok’Ng) yang akhirnya menjadi sebuah perkampungan Melayu yang disebut Bumbung. Perkawinan silangpun tidak terelakan, membaur hingga beranak pinak. Tidak heran jika Dusun Bumbung walaupun mayoritas Dayak tetapi menganut Agama Islam yang dinamakan (masok Laut-Red). Walaupun berbeda keyakinan, namun keberadaban warga Bumbung masih menghormati Adat istiadat dan Budaya yang . menjadi kearipan lokal. Dusun Bumbung Desa Bengkawan .ini merupakan perkampungan dengan cerita unik, karena menyimpan banyak.sejarah dan budaya seperti rumah Adat Balug pertama didirikan di Benua HLiboy yakni Rumah Adat Balug Kambih. Balug ini memiliki Ciri khas tersendiri karena tidak memiliki ruangan dan dipisahkan oleh pembatas, atapnya terbuat dari Daun Rumbia (Sagu) dan memiliki Dua pintu yang menghadap kebarat dan timur. Hanya saja di depan Masing-masing pintu terdapat serambi sebagai tempat musyawarah dalam setiap penyelesaian masalah yang berhubungan dengan adat-istiadat. Rumah Adat Balug Kambih juga dibuat tanpa menggunakan paku, sungguh kearifan lokal yang luar biasa. Sejarah rumah adat Balug yang pertama terdapat di Dusun Kambih, hanya saja belum dikenal oleh masyarakat luas, tetapi paling tidak Desa Bengkawan menjadi tempat bersejarah,”ungkap Kibli mengakhiri pembicaraannya.

informasi gunung niut

Gunung Niut adalah sebuah Gunung yang terletak di negara Indonesia, Provinsi Kalimantan Barat yang memiliki ketinggian 1701 meter, atau setara dengan 5581 kaki. Dataran tinggi berbentuk Gunung yang bernama Gunung Niut ini berada di wilayah Asia. Apabila anda memiliki uang serta keberanian yang cukup anda bisa mengunjungi Gunung Niut di Indonesia, Provinsi Kalimantan Barat, Asia untuk melakukan pendakian maupun sekedar menikmati pemandangan alamnya (selama diijinkan oleh pemerintah setempat). Gunung Niut merupakan ciptaan Tuhan yang sempurna, kokoh dan indah yang harus kita syukuri dan kita pelihara. Informasi Lebih Rinci (Detil) Gunung Niut : Nama : Gunung Niut Nama Internasional : Mount Niut Bentuk / Nama Lain : - Ketinggian : 1701 meter / 5581 kaki Negara : Indonesia, Provinsi Kalimantan Barat Wilayah / Benua : Asia Keterangan Wilayah : Pulau Kalimantan (Borneo) Huruf Awal Nama : N Tipe / Jenis : Gunung Peringkat Ketinggian (Dunia) : Belum Tersedia Koordinat Peta : Belum Tersedia Penonjolan (meter) : Belum Tersedia Informasi Tambahan : Kabupaten Sambas Keterangan : - Sumber Data : Wikipedia, dan sumber internet lainnya Poin Penting / Kesimpulan dari Gunung Niut : Kesimpulan 1 : Gunung Niut berada di negara Indonesia, Provinsi Kalimantan Barat di daerah Asia Kesimpulan 2 : Tinggi / Ketinggian Gunung Niut adalah 1701 meter atau 5581 kaki Kesimpulan 3 : Gunung Niut adalah merupakan dataran tinggi berupa Gunung Kesimpulan 4 : Secara internasional Gunung Niut bernama Mount Niut Kami minta maaf yang sebesar-besarnya jika ada kesalahan maupun kekurangan pada informasi Gunung Niut ini. Semoga info singkat tentang Gunung Niut ini membawa manfaat untuk semua. Apabila anda memiliki komentar, tambahan, pengalaman, koreksi dan lain sebagainya yang berhubungan dengan Gunung Niut dipersilahkan menuangkannya lewat isian komentar di bawah ini. Terima kasih.

Gunung Niut

Gunung Niut merupakan salah satu gunung yang terletak di Provinsi Kalimantan Barat, Kabupaten Bengkayang, Kecamatan 17, yang terletak tepatnya di Desa Pisak, Dawar Lama. Gunung yang alami ini membuat pengunjung dari berbagai daerah ingin datang untuk mendakinya,terlebih orang-orang yang sangat mencintai alam,Sebut saja MAPALA,SISPALA dan masih banyak lagi.Gunung Niut ini menurut blog orang yang saya baca,Gunung ini merupakan gunung yang tertinggi di daerah Kalimantan Barat.
Gunung Niut memberikan kekayaan alam yang cukup beragam dari tumbuhan-tumbuhan alam yang masih alami yang tidak boleh disentuh oleh tangan-tangan yang  jahil,karena gunung Niut ini merupakan cagar alam yang masih di lestarikan di daerah Kecamatan 17 ini.Hamparan hijau membentang disetiap perjalanan anda,panorama indahnya pohon-pohon besar menghampiri anda jika anda sedang mendaki kesana.Diatas gunung Niut ini juga bisa kita temui bekas-bekas gua peninggalan mungkin peninggalan manusia-manusia purba dahulu.Tumbuhan-tumbuhan liar dan langka juga hadir disetiap jalan pendakian anda.Waktu yang dibutuhkan pendakian biasanya ditempuh dua hari untuk benar-benar sampai kepuncak gunung.
Jika anda berminat dengan wisata alam Niut ini kunjungi saja di Kalimantan Barat,Kabupaten Bengkayang,Kecamatan 17,Desa Pisak,Dusun Dawar Lama.Pendakian Gunung biasa di lakukan pada liburan sekolah dan biasa musim panas serta jika anda ingin mendaki disana bawalah alat-alat dan keperluan yang cukup.Pendakian biasanya dipimpin oleh orang-orang yang sering mendaki kegunung itu atau sebut saja orang-orang setempat.